Mengakhiri Pertandingan

0
20

2 Timotius 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman

Adakah persamaan antara perenang dengan pebulutangkis? Jelas beda. Perenang bertan­ding / berlomba di dalam air, sedangkan pebu­lu­tangkis bertanding di lapangan.

Bagaimana dengan pemain sepak bola dan pecatur? Juga berbeda. Pemain bola menyentuh dan menendang bola. Sedangkan pecatur tidak mungkin bertanding dengan me­nyentuh dan menendang.

Kalau pelari dan petinju? Juga berbeda. Pe­lari, begitu peluit dibunyikan, mereka akan berusaha berlari se­kencang-kencangnya untuk menjauhi lawan-lawannya. Sedangkan petinju, begitu bel berbunyi, mereka berusaha untuk saling merangsek dan saling memukul.

Ada hal lain yang begitu menentukan kemenangan mereka, yakni:

1. Melakukan pertandingan/perlombaan dengan sungguh-sungguh

Setiap atlet pasti melakukan per­tandingannya dengan sungguh-sungguh dan bersemangat. Tidak ada perenang, ketika ber­lomba sambil bege­jesan (bergurau). Juga tidak dijumpai pemain bola, ketika bertanding sambil bawa majalah, kalau-kalau tidak ada bola mereka santai sambil membaca majalah. Begitu pula tidak ada petinju ketika bertanding sambil mengenakan head-phone agar dia bias mendengarkan radio.

2. Yang menentukan adalah hasil akhir

Meskipun Persebaya pada babak 1 menang 12-0 tetapi kalau di babak kedua mereka kebo­bolan 20 gol, pastilah Persebaya kalah. Atau misalnya Tyson unggul angka dari ronde 1 sam­pai ronde 14. Tetapi kalau dia pada ronde 15 dipukul KO oleh Holyfield, maka 14 ronde itu tidak a­da artinya.

Dua hal ini selaras dengan apa yang ada di dalam Kisah Para Rasul 20:24. Bersungguh-sungguh dan Mencapai garis akhir.

Hidup kita ini ibarat sedang dalam pertan­dingan. Paulus dalam 1Korintus 9:24-27 menyampaikan:

1. Menguasai dirinya dalam segala hal (a­yat 25)

Menguasai diri di dalam bahasa Yunani dituliskan dengan kata egkrateumai. Yang berarti menge­kang diri, memusatkan diri, menghindari diri. Setiap orang yang bertanding akan berusaha menguasai dirinya. Ar­tinya tidak berleha-leha, lengah, terlena, enak-enakan, atau dalam keadaan tidak waspada.

 

Kepada Jemaat Kolose, Rasul Paulus pernah menasihati: Apapun yang kamu perbuat, la­ku­kanlah dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23)

Kenapa ada orang yang merayakan atau mengingat hari ulang tahunnya?

2. Tidak sembarangan (ayat 26)

Harus ada tujuan. Fokus. Tujuan. Bagaimana jadinya kalau seseorang hidup dengan tanpa tujuan. Bukan untuk kepentingan dan keperluan sesaat saja.

Tujuan dan focus orang percaya adalah keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tetapi ada banyak orang Kristen justru mengesampingkan tujuan ini, lalu kemudian berfokus pada sesuatu yang lain yang sebenarnya adalah sesuatu yang sia-sia dan fana.

Suatu saat ada seorang raja yang gila kekayaan terutama emas. Dia memohon kepada para dewa, lalu kemudian para dewa memutuskan untuk mengabulkan permintaan raja tersebut. Ketika dia coba kesaktiannya, langkah pertama dia ambil batu. Saat dia menyentuh batu itu, maka batu tersebut berubah menjadi emas. Wow senang sekali hatinya. Maka disentuhlah semua benda yang ada di sekitarnya.

Pada suatu saat laparlah ia. Ketika dia mau menyentuh buah untuk dimakan, maka buah yang akan dimakan tersebut juga berubah menjadi emas. Saat dia haus hendak minum, gelas dan air yang ada di dalamnya juga menjadi emas. Maka sedihlah hatinya. Lalu kelihatan olehnya, istrinya yang sangat cantik dan sangat dia sayangi. Dipanggilnya lalu istrinya mendekat. Ketika dia membelai rambut istrinya, maka sang istri berubah menjadi emas. Ha?

Ketika orang percaya lalai dengan focus hidupnya, maka kesia-siaan yang akan dijumpai. Orang Kristen harus fokus pada tujuannya yakni ke Surga. Sebab kita adalah warga kerajaan Surga (2Tesalonika 1:5).

3. Melatih tubuh dan menguasai (ayat 27)

Layaknya seorang atlet yang melatih tubuhnya agar terampil dan siap bertanding, maka orang percaya harus melatih hidupnya dengan melakukan kebenaran Firman Tuhan. Melakukan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Serta menjaga kehidupannya dengan takut dan gentar (Filipi 2:12).

Suatu saat Tuhan Yesus berfirman: Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (Matius 8:11-12)

Ingat! Kunci keberhasilan seorang atlet diten­tukan dengan dua hal: melakukan dengan ke­sungguhan dan hasil akhir.

Betapa bangga dan berbahagianya seorang atlet yang maju ke podium (beema) untuk menerima tan­da kemenangan. Demikian pun kita. Apabila kita menang dan mencapai garis akhir, maka mahkota kebenaran pun akan dianugerahkan bagi kita (2Timotius 4:8).

Sumber : salomodt.blogspot.com

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here