Poligami Bukan Rancangan Allah

0
25

Apa yang dikatakan tentang pernikahan Kristen adalah monogami adalah benar. Dasar konsep monogami Kristen bukan karena faktor sosial, budaya dan ekonomi, tetapi karena memang karena Allah-lah yang merancang dan menghendaki. Suami beristri satu dan istri bersuami satu.

Adam dan Hawa, dua menjadi satu.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kejadian 2:24

Allah merancang pernikahan Adam dengan Hawa, dua menjadi satu. Menjadi satu dalam pengertian Alkitab bukan hanya berkenaan dengan seks saja tetapi juga berkenaan dengan emosi, sosial, cinta dan perkawinan. Setia untuk satu orang, berlangsung untuk seumur hidup, kecuali ada yang meninggal.

Pernyataan tentang pernikahan Kristen sesuai dengan gagasan Allah juga ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 19:5. Apa yang dikatakan Yesus dengan mengutip Kejadian 2:24 melegitimasi bahwa hanya pernikahan seperti buatan Allah-lah yang suci dan sejati. Itulah pernikahan asli yang ditetapkan oleh Allah, sekaligus juga merupakan anugerah bagi orang percaya. Sebagai ketetapan, setiap orang yang melanggarnya pasti mendapatkan ketidakbaikan. Merupakan anugerah karena melalui pernikahan yang Allah rancang manusia mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.

Di dalam Perjanjian Lama memang di temukan praktek pernikahan poligami : Abraham, Yakub, Daud dan Salomo. Namun demikian bukan berarti bahwa poligami dibenarkan oleh Allah. Praktek poligami tidak sesuai dengan ketetapan dan anugerah Allah. Karena tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, maka ditemukan bagaimana praktek poligami oleh para hamba Allah itu melahirkan permasalahan.

Praktek poligami di Perjanjian Lama di mulai oleh Lamekh yang beristri Ada dan Zila. Apa yang dilakukan Lamekh bersama kedua istrinya dalam Kejadian 4:23, Ahli Etika Kristen J. Verkuyl dalam bukunya Etika Kristen Seksual, menyebutkan : “Tarian perang itu bermotifkan dendam, keangkuhan dan cinta birahi.” Pernikahan Abraham dengan Hagar sebenarnya merupakan produk dari keragu-raguan Sarai dan Abraham terhadap janji Allah tentang keturunan (Kejadian 16:1-2). Akibat pernikahan tersebut terjadilah ketidakharmonisan dalam keluarga Abraham. Hagar memandang rendah Sarai dan Sarai menindas Hagar ( Kejadian 164-5). Pernikahan Yakub juga diwarnai oleh ketidakadilan, kecemburuan dan kemarahan ( Kejadian 30:1-2). Sedangkan Samuel lahir dari penderitaan yang dialami Hana karena disakiti madunya Penina ( I Samuel 1:6). Kekerasan dan pembunuhan terjadi pada keluarga Daud. Hal yang sangat tragis dialami oleh orang berhikmat Salomo, poligami jasmani telah menjadikannya berpoligami secara spiritual. Salomo pada akhir hidupnya melakukan penyembahan berhala (I Raja-Raja 11:1-13).

Pernikahan yang tidak sesuai dengan rencana Allah telah dipraktekkan oleh beberapa tokoh dalam Perjanjian Lama. Pernikahan itu sendiri diwarnai ketidakharmonisan bahkan menduakan Allah. Poligami bukan kehendak dan rancangan Allah. Rasul Paulus juga memberikan syarat bagi pelayan jemaat yaitu satu istri. “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang ( I Timotius 3:2 ),”

Setia pada satu orang.

Asas pernikahan Kristen berikutnya adalah kesetiaan. Perzinahan adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Allah tidak pernah mentolelir perjinahan. Kata ”menjadi satu” adalah suatu komitmen mengenai kesetiaan, ketabahan, dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Suami melekat pada istrinya dan sebaliknya. Suami menyerahkan hidupnya pada satu istri, demikian juga sebaliknya. Tidak ada pria idaman lain (PIL ), wanita idaman lain (WIL), teman tapi mesra (TTM) maupun istri ke 2,3 dstb. Suami dan suami dalam pernikahan Kristen merupakan proses yang terus berjalan dalam kesetiaan. Suami dan istri saling setia dengan tidak melakukan serong atau perjinahan.

Dasar dari kesetiaan adalah kasih. Setia bukan karena masih muda, kuat, dan menguntungkan tetapi karena kasih. Kasih suami istri adalah kasih yang semata-mata bukan berdasarkan eros, lebih dari itu adalah agape. Kasih yang memberi dan berkorban. Efesus 5:33 mengungkapakan : “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku : kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.” Demikian juga I Korintus 13:4-5 : ”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

Satu seumur hidup, sampai maut memisahkan.

Tuhan Yesus menegaskan : “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Matius 19:6).” Kemudian pada ayat 9 Tuhan Yesus juga menegaskan, tetapi Aku berkata kepadamu : “ Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Dalam pernikahan Kristen Allah merancang, sekali untuk seumur hidup, kecuali adanya kematian. Alkitab tidak menghendaki perceraian dan perzinahan apa pun alasannya. Pernikahan Kristen lebih hakiki sebagai persekutuan hidup dari pada persekutuan fisik. Sebagai suatu persekutuan di dalam kasih kepada Tuhan, tanggung jawab bersama dan saling membangun. Saling menghormati, menghargai, memperhatikan dan melengkapi ( I Petrus 3:1-12 ).

Monogami : gambaran hubungan Allah dengan umat-Nya.

Aspek terakhir yang sangat mendasar untuk dipahami bahwa Alkitab seringkali menggambarkan hubungan suami istri sebagai gambaran hubungan antara Allah dengan umat-Nya.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah “ di dalam diri manusia ada sifat-sifat Allah.” Gambar dan rupa inilah yang membuat manusia begitu istimewa di hadapan-Nya. Melihat dasar penciptaan manusia, sebenarnya apa yang ada dan terjadi dalam diri manusia tidak terlepas dari rencana dan kehendak Allah. Termasuk dalam pernikahan.

Allah tidak mau umat-Nya menyembah selain Dia satu-satunya. Pada orang percaya hanya ada satu Allah. Allah cemburu kalau umat-Nya berzinah rohani dengan allah lain. Keluaran 20:3 : “ Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Keluaran 20:5 : “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.”

Hubungan suami istri seperti Allah atas umat-nya, Yesaya 62:4 Engkau tidak akan disebut lagi “yang ditinggalkan suami”, dan negerimu tidak akan disebut lagi “yang sunyi”, tetapi engkau akan dinamai “yang berkenan kepada-Ku” dan negerimu “yang bersuami”, sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami.

Hubungan suami istri harus saling mengasihi, menghormati, seperti Kristus telah mengasihi jemaat-Nya ( Efesus 5:25-32 ). Hubungan suami istri menggambarkan Kristus sebagai mempelai pria dan jemaat mempelai wanita. Mat 25:1 “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.”

Pada akhirnya dapatlah dibuat satu kesimpulan, meskipun perkawinan adalah urusan manusia, namun sebenarnya di dalam pernikahan ada satu kehendak, rancangan dan gambaran suci dari apa yang Allah inginkan.

Oleh : Nicodemus Yuliastomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here